Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove berkaitan sebagai tumbuhan tropik dan komunitas tumbuhnya di daerah pasang surut, sepanjang garis pantai (seperti: tepi pantai, muara, laguna dan tepi sungai) yang dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Hutan mangrove berada di daerah tropis di titik pertemuan antara laut dan darat dimana ekosistemnya mempunyai bermacam-macam fungsi. Ekosistem mangrove sangat berhubungan dengan kehidupan manusia dalam mengontrol kondisi alam. Di Indonesia ditemukan 75 jenis flora mangrove yang tersebar di 27 provinsi dengan luas hutan mangrove berkisar antara 2,5 – 4,2 juta hektar dan luas ini terus berubah karena faktor lingkungan dan kegiatan ekonomi manusia (JICA, 1999).
Mangrove merupakan tumbuhan yang hidup antara laut dan darat, ada yang berbentuk pohon ada pula yang berbentuk semak, pada waktu pasang akar-akarnya tergenang oleh air garam tetapi pada waktu air surut akar-akar itu nampak. Tumbuhan ini banyak ditemukan pada daerah pantai yang terlindung, terjadi antara rata-rata permukaan laut terendah dan rata-rata tinggi air pasang penuh dalam garis pasang surut, muara dan di beberapa terumbu karang yang telah mati.
Menurut para ahli, mangrove kebanyakan bersifat halophyt yaitu sifat tumbuhan yang bisa beradaptasi dengan air asin, karena di dalam cairan selnya mempunyai tekanan osmosa yang tinggi. Sehingga mangrove mampu mengadakan sekresi dan pengasingan garam-garam. Dalam hal ini mangrove dapat dibagi dalam dua kelas yang berbeda yaitu pertama “salt secretors” merupakan kelompok mangrove yang mampu mengeluarkan garam melalui kelenjar daun yang khusus, dimana kelebihan garam dikeluarkan melalui sel-sel kelenjar. Jenis-jenis tersebut antara lain Avicennia marina, Aegialitis annulata, Aegiceras corniculatum. Sedang kelas kedua disebut “salt-excludes” yaitu kelompok mangrove yang sangat sedikit mensekresikan garam, kelebihan garam disimpan dalam daun yang sudah tua. Jenis-jenis tersebut antara lain Rnhizipora dan Sonneratia (Soeroyo, 1992).
Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Hutan Mangorove dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur dan memijah (spawning ground) dan tempat berlindung yang aman bagi berbagai ikan-ikan kecil serta kerang (shellfish) dari predator. Beberapa manfaat hutan mangrove dapat dikelompokan sebagai berikut:
1. Manfaat / Fungsi Fisik :
a. Menjaga agar garis pantai tetap stabil
b. Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi.
c. Menahan badai/angin kencang dari laut
d. Menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru.
e. Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar
f. Mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2.
2. Manfaat / Fungsi Biologi :
a. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.
b. Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang.
c. Tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak dari burung dan satwa lain.
d. Sumber plasma nutfah & sumber genetik.
e. Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota.
3. Manfaat / Fungsi Ekonomi :
a. Penghasil kayu : bakar, arang, bahan bangunan.
b. Penghasil bahan baku industri : pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik, dll
c. Penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak silvofishery
d. Tempat wisata, penelitian & pendidikan (Irwanto, 2006).
Hutan mangrove di Indonesia tersebar luas dari Propinsi Aceh di Sumatera sampai bagian timur Propinsi Irian Jaya yang berdekatan dengan Negara Papua Nugini. Luas arealnya sangat bervariasi dan tidak diketahui secara tepat (berkisar antara 2,49 – 4,25 juta Ha). Dengan kata lain, hasil inventarisasi dan perhitungan tentang luas mangrove yang pasti belum dilaksanakan (JICA, 1999). Tujuan pengelolaan mangrove adalah agar dapat diperoleh fungsi dan manfaatnya secara maksimal dan berkelanjutan, sesuai dengan sifat dan karakteristiknya dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial dan ekologinya, sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan dan keterpaduan.

About imantux

Menekuni GIS dan Remote Sensing. Menyelesaikan S1 dan S2 pada Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Tinggal di Makassar. Hobby Travelling dan Membaca. Bisa korespondensi via email imantuxm@gmail.com

Posted on June 3, 2011, in Forestry and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: